Al-Ghuroba'

  Perjalanan panjang ke Greweng
                                             
  
                                                … Experience is thebest teacher ….
            Pengalaman adalah guru terbaik bagi kita.Karena dari pengalaman, kita dapat mempelajari disetiap momen yang terekam didalamnya. Belajar dari setiap kegagalan, belajar dari segala apa yang kita lihat, dengar, hirup, dan rasakan. Maka, menjadi sebuah tekad yang musti bagi kita, para penjelajah untuk memperbanyak pengalaman dalam hidup kita.Selagi kita masih muda, raga ini masih kuat, jangan sampaikita relakan setiap kesempatan itu terbuang begitu saja dari goresan sejarahdikehidupan kita.Inilah cerita kami, catatan dari setiap langkah kaki-kaki  para penjelajah. 

Tepat pada tanggal 11 sebtember, 2014 kami santri putri Panatagama kelas 10 dan 11 melakukan kegiatan project di luar kelas. Kali ini project dilaksanakan di daerah Gunaug Kidul dengan tujuan akhir  perjalanan ke pantai Gereweng. Project ini kami sebut dengan longtrip( jalan jauh). Tujuan dari project ini adalah melatih santridalam membangun jiwa kepemimpinan antar kelompok ataupun induvidu, serta melatih tanggung jawab, dan kepedulian santri.Sebelum kami melakukan perjalanan, kami melakukan diskusiterkait masalah logistikbaik dari mengatur menu, membelanjakan bahanya, pembagian tugas per individu, dan lain sebagainnya.Selanjutnya kami mempersiapkan kebutuhan pribadi di asrama masing-masing.
            Waktu menunjukan pukul 14.30 WIB, terik sang surya masih terpancar menerangi siang itu. Kami berkumpul di asrama Blok o, Wonocatur untuk mendengarkan pengarahan  dari ustad Agus tentang masalah teknis pada saat perjalanan nanti. Terlihat sebuah truk berwarna merah sudah sedari tadi menunggu  untuk mengantar kami seperempat dari perjalanan yang telah direncanakan. Kami pun mulai menata rapi barang-barang baik itu barang per kelompok atau barang pribadi keatas truk dan setelah itu kami pun naik satu persatu ke dalam truk tersebut.
            Suara mesin truk terdengar makin menderu keras, tiupan angin menerbangkan karbon monoksida yang keluar dari knalpot kendaraan, dan teriknya sinar matahari  mengenaikerudung kami yang berkibar-kibar. Di tengah perjalanan yang begitu terasa lama dan berliku-liku nan curamini,kami tetap terlelap dalam tidur hingga akhirnya terdengarremang-remang suara adzan ashar .Truk pun terus melaju, sampai akhirnya truk pun berhenti tepat di depan masjid yang sederhana dengan kubah mungil yang menghiasi atapnya. Suasana begitu nyaman, diringi suaraanak-anak TPA yang sedang asyik bercanda.Dan masjid inilahstart yang mana menjadi tempat awal dari parjalanan panjang menuju pantai Gereweng. Kami turun dari truk dengan membawa barang bawaan untuk diletakan di teras masjid Al-Ikhlas.Sebagian dari kami mempersiapkan sholat ashar dan sebagian lagi menjaga barang bawaan.Kami tak sendiri, di perjalanan ini kami di dampingi oleh beberapa guru, yang biasa kami sapa dengan panggilan “ ustad” yaitu ustad Zulfadlie, ustadRahmat, dan ustad Agus. Seusai sembayang kami berkumpul kembali untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan.Alangkah terkejutnya kami ketika ustad-ustad meminta kami untuk mengumpulkan makanan ringan (cemilan) dan dompet yang kami sudah persiapkan sebagai teman perjalanan kami. Hanya tas berisi pakaian, bahan logistik, dan air minum yang boleh kami bawa. Sungguh tak terduga.
       
Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 WIB, kami mempersiapkan barang bawaan kami untuk memulai perjalanan jauh. Sebelum perjalanan  dimulai, kami berdoa terlebih dahulu agar nantinya perjalanan berjalan dengan  lancar dan sampai ke tujuan dengan sehat wal‘afiat. Perjalanan pun dimulai.Kami dibagi menjadi 2 kelompok jalan dengan tujuan untuk memudahkan dari sisi pengontrolnya. Suara hentakan kaki mulai terdengar keras dancelotehan kami pun  mulai terdengar bak senandung lagu yang tak beraturan. Di perjalanan ini kami diberi tugas oleh ustad Agus untuk mengambil gambar dengan kamera terkait potret realita kehidupan masyarakat Gunung Kidul.Di pertengahan jalan kami bertemu beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu menaiki truk.Bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut baru saja mengolah lahan mereka untuk di jadikan cocok tanam.
Tak lama setelah itu, tepat pada pukul 16.40 WIB kami sampai di sebuah lahan yang sangat luas di suguhi dengan pepohonan yang hijau  dan bukit-bukit yang berjajar rapi. Dan anehnya sebagian lahan tersebut menjorok ke bawah atau sering kita sebut dengan jurang.Ternyata dibawah terdapat 2 goa yang terpisah.Kami di bimbing oleh paraguru untuk menuruni jurang terebut.Jurang tersebut sangatlah curam sehingga, kami turun dengan penuh dengan kehati-hatian. Sesampai di bawah para guru menunjukan kepada kami sebuah lubang besar, lubang itu tak lain adalah mulut goa yang disebut goa Ningrung.Goa ini penuh dengan sejarah.Dan jikalau kita memasuki salah satu lubangnya kemudian menyusururinya maka konon katanya kita akan menembus lubang goa yang satunya. Kami pun tak luput untuk mengabadikan moment ini. Karena sinar sang surya makin pudar tertelan senja, baru masuk kurang dari 3 meter dari mulut goa, kami sudah diminta berbalik keluar. Meski sedikit kecewa karena tak jadi menyusuri goa, tapi kami musti berbesar hati menerimanya, toh perjalanan kami masih jauh, masih banyak tempat yang menunggu kami untuk disinggahi.
            Hari pun semakin sore akhirnya ustad pun memutuskan untuk kembali ke atas. Pada saat kami akan sampai ke atas, ada suatu tragedi yaitu kami salah jalan dan akhirnya kami memutuskan untuk putar balik. Sejenak kami beristirahat diatas, menikmati panorama  senja diatas bukit..
 
            Pada saat kami bersiap melanjutkan perjalanan, adzan maghrib berkumandang dan waktu menunjukan pukul 18.10 WIB. Kami masih berada jauh dari pemukiman, kami bersepakat untuk menjama’ sholat magrib dengan sholat isya’.Di tengah perjalanan kami beristirahat untuk mengumpulkan tenaga.Terkadang barisan kami terputus saat melanjutkan perjalanan, karena kondisi fisik yang berbeda-beda. Tetapi kami tetap  bersemangat dalam melakukan  perjalanan ini bahkan sebagian dari kami menghibur dengan senandung lagu ala santri untuk penyemangat.

            Semakin lama perjalanan ini semakin melelahkan, sementara jalan yang kami lewati kebanyakan hutan jati dan minyak kayu putih.Kami pun tak sabar lagi untuk menemukan pemukiman penduduk.Tak lama dari itu tepat pukul 19.00 WIB kami sampai di masjid Al Huda.Kami pun langsung merebahkan badan di teras masjid sembari menunggu antrian wudhu.Sebelum kami sampai di masjid Al Huda ternyata ustad Yoyok yang mengikuti kami sepanjang perjalanan dengan motornya, lebih dulu sampai.Di masjid ini kami melakukan diskusi bersama ustad Yoyok dan makan malam.Tak lama dari itu ustad Nasrul bersama ustad Zulnaro yang aawalnya tak mendampingi kami, ikut menyusulke masjid Al huda. Setelah beristiraat di masjid Al-Huda, kami melanjutkan perjalanan.Malam makin larut…kami tak sendiri, beribu bintang bertaburan menemani langkah-langkah kami, para penjelajah.Tepat pada pukul 22.00 WIB kami sampai di masjid Al-Azhar untuk beristirahat malam, melanjutkan perjalanan malam itu dibawah alam mimpi.
 Keesokan harinya, pada tanggal 12 september 2014. Sebelum adzan subuh berkumandang, kamipunsegera  bangun dan bersiap-siap shalat sholat subuh. Setelah shalat subuh, kami berkumpul dengan Abah (ustad Yoyok).Abah menyampaikan pengumuman dan beberap materi  untuk kami. Sebelum memulai perjalanan kami melakukan olahraga ringan terlebih dahulu.Dilanjutkan dengan do’a bersama dipimpin oleh ustadz Agus.Perjalanan pun dilanjutkan.
             Perjalanan kami tertuju ke pasar Tepus.Awalnya para guru ingin berburu makan khas disana, yaitu tiwul.Tetapi nihil, tak ada yang menemukan penjual tiwul.Sudah sejauh 2 km kami berjalan, sorotan sinar matahari makin terik memancar, hingga akhirnya diputuskan untuk mencari masjid dan sarapan karena perut kami sudah bernyanyi-nyanyi.Kamipun tiba di masjid Al-Hasthariyah.Kami bersiap-siap memasak untuk sarapan.Ada yang mengambil air, menyalakan kompor spiritus, dan memotong-motong sayuran.Setelah sekian lama bergelut dengan kompor spiritusyang tak kunjung menyala namun pada akhirnya api kompor pun menyala juga, kamipun memulai merebus kentang dan wortelnya. Sambil kita menunggu kentang dan wortelnya matang, kamipun bercerita sambil bercanda.Disisi lain, santri silih berganti yang dipanggil abahuntuk berdikusi kertas ‘impian’, yakni terkait impian-impian yang hendak kita capai.

      Disela-sela kebosanan menunggu, kami asyik bercanda, hingga sebuah tragedi terjadi. panci berisi kentang tumpah karena tersenggol oleh kaki salah seorang santri. Segera, santri itupun  bergegas untuk mengambil air dan merebusnya kembali. Waktu semakin menghimpit kami.Karena tak mungkin kami berlama-lama masak, kami juga musti melanjutkan perjalanan kami, yang entah dimana ujungnya itu.Pada awalnya, menu sarapan kami pecel, tetapi bumbu pecelnya ternyata tertinggal.Dengan wajah lesu, kami makan saja wortel dan kentang yang hampir mendekati kata “tak matang” itu dengan balutan garam. “Yummy”, bersyukur atas segala apa yang Allah berikan, allhamdulillah kami masih bisa makan. Seusai sararapan, kami langsung melanjutkan perjalanan diatas teriknya sang surya yang makin menyengat saja.

            Perjalanan makin lama makin terasa melelahkan, setetes dua tetes, keringat berjatuhan dari kulit kami.Kami berhenti di masjid Al-Ikhlas untuk menjama’ sholat dzuhur dan ashar.Ketika kami masuk, keadaan masjid sangat kotor, terlihat jarang dipakai.Mungkin karena letak masjidnya dipinggir jalan yang sepi dan jauh dari rumah- rumah warga, hanya ada kebun serta pepohonan yang berada disamping kiri masjid. Lalu beberapa dari kami membersihkan masjid agar lebih nyaman untuk dipakai . Ditengah keributan kami, ustadz Zulnaro and friends datang  membawa kepiting yang didapatkan di pantai greweng, kami pun langsung spontan mendekati ustad zulnaro dan melihat kepiting itu. Wah, semakin menjadi- jadi saja keinginan kami untuk segera sampai di pantai Gereweng karena melihat ustad Zulnaro yang berhasil mendapat kepiting.Setelah itu kami sholat dan tidur sejenak untuk melepas rasa lelah, dan letih yang menggantung disetiap sendi tulang kami.
           Tak lama kemudian, satu per satu dari kami bangun dan mulai memasak dibelakang masjid. Siang itu kami telah merencanakan untuk memasak singkong rebus yang dicampur gula merah . Kami tak menyangka  ternyata memasak singkong itu butuh waktu yang sangat lama, apalagi dengan kompor spirtus. Padahal kami sudah berusaha mengirisnya tipis- tipis supaya singkong itu segera matang. Alhasil..tetap saja membutuhkan waktu yang sangat lama, ditambah angin yang berhembus  kencang, memporak-porandakan api yang sesekali berhasil dinyalakan, sehingga semakin lama saja kami memasaknya. Tapi kami tetap sabar dan berusaha agar nasib singkong kami tak seperti kentang, tidak matang bin athos.Beberapa kali ustad  mengajak untuk melanjutkan perjalanan karena waktu sudah semakin sore, tapi kami selalu mengelak karena masakan kami tak kunjung juga matang. Tak rela kami membiarkan langkah kaki melaju dengan perut kosong kami.Setelah  menghabiskan banyak waktu, akhirnya kami berhasil memasak singkong itu. alhamdulillah rasanya enak, walaupun belum matang 100%.

Akhirnya kami berhasil melewati fase makan siang, dan kami pun bersiap- siap untuk melanjutkan perjalanan.Tak lupa kami membersihkan masjid Al-Ikhlas. Sekitar jam 15.00  kami mulai keluar dari masjid dan melakukan breafing sebelum setelahnya melanjutkan perjalanan.

            Langkah kami terus mengarungi jalanan yang makin berlika-liku.Ditengah perjalanan seperti biasa, tak lupa kami melaksanakan tugas ustad Agus, yakni mangambil gambar warga yang sedang melakukan aktivitas. Kami melewati lapangan yang sedang dikerumunin banyak orang, ternyata di sana sedang ada acara sepak bola wanita.Cukup menarik.Tapi kami tak singgah dan tetap melanjutkan perjalanan.
Kami sangat menikmati perjalanan ini, apalagi warga didaerah itu begitu ramah.Saat kami menyapa, mereka tak segan- segan menawarkan kepada kami agar mampir ke rumahnya...beberapa dari kami menerima tawaran itu untuk mengisi botol air yang semakin berkurang.Kami juga mendapat pisang goreng dan camilan.Tak lama kami berjalan, seorang ibu yang memberi pisang tadi memanggil kami supaya makan di rumahnya, kami pun malu- malu untuk menerima tawarannya.Tapi akhirnya kami datang kerumah ibu itu juga dan menerima makanan berupa nasi serta ikan tongkol. Seusai bersapa ria, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.Baru beberapa meter kami melanjutkan perjalanan, seorang bapak-bapak yang tak lain suami ibu  tadi menyusul kami dan memmberikan telur asin sekantong. Subahnaallah, kami sangat bersyukur.Semoga rizki beliau dilimpahkan.
         Senja makin menghantui langkah-langkah kecil kami.Pada pukul 17.37 WIB, kami berhenti dimasjid Mujahidin untuk istirahat, karena hari semakin gelap, kami pun menjama’ sholat maghrib dan isya di masjid Mujahidin. Kami juga makan malam disana.
         Sejak pagi  kami makan kentang tak matang, siang makan singkong yang tak matang sempurna, dan syukurlah malamnya nikmat begitu terasa.Makan malam saat itu terasa istimewa.Nasi, telur asin dan ikan tongkol. Dari kami dibagi menjadi empat kelompok, supaya makan nya lebih efektif.Lalu kami beristirahat sejenak. Awalnya kami akan bermalam dimasjid Mujahidin, tapi kami ingin segera sampi di Greweng, supaya bisa mencari kepiting, karena kepiting di greweng kebanyakan muncul saat malam hari. Ketika itu kami mengalami andilau, antara delima dan kegalauan,karena ustad Agus memberi tiga piihan, pilihan pertama adalah menginap dimasjid dan melanjutkan perjalanan esoknya , pilihan kedua tetap melanjutkan perjalanan dan langsung ke panatai Wediombo , kemudian pilihan ketiga tetap melanjutkan perjalanan dan bermalam ke Greweng, baru esoknya melanjutkan perjalan ke pantai Wediombo.
       Setalah kami berdiskusi, akhirnya kami memilih pilihan yang ketiga. Meski lelah telah menghantui, namun semangat yang membara itu  membakar kelelahan yang mencekram kami. Kami pun mulai berbaris dan melanjutkan perjalanan lagi, kami menyusuri jalanan yang sedikit lebih ramai, banyak warung yang berjejer dipinggir jalan.Setelah sekian lama kami berjalan, keadaan semakin gelap dan sepi, karena jauh dari rumah warga.Saat itu kami mendengar gonggongan beberapa anjing, akhirnya kami disuruh berjalan dengan tenang supaya anjing- anjing itu tidak mengejar.Ustad Zulfadhlie pun sangu sebilah kayu. Dan…. Alhamdulillah kami berhasil melewati kawasan anjing galak itu.
    Perjalanan terus berlanjut,dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis.Tib-tiba dalam sekejap kami merasakan kesenderian.Entah memang meninggalkan kami atau hanya bersembunyi, para guru pendamping perjalanan kami lenyap, baik dibarisan depan atau yang belakang. Tapi kami tetap enjoy ,toh kami masih bersama-sama, meski tetap ada ketakutan karena merasa tak ada yang menjaga kami.Sejauh mata memandang, ada beberapa laki-laki dipinggir jalan. Awalnya kami sudah was-was untuk melanjutkan perjalanan, tapi dengan tekad yang kuat agar segera sampai ke Gereweng kami tetap maju. Siapakah gerangan?Ternyata, beberapa laki- laki itu tak lain adalah penjaga tiket masuk kedaearah Wediombo. Jadi sebelum masuk daerah wediombo, orang- orang musti melakukan registrasi disitu. Ketika itu kami bingung saat salah seorang dari mereka tanya kepada kami siapa yang bertanggung jawab di rombongan kami. Karena sebelum masuk harus membayar terlebih dahulu, sedangkan diantara kami tak ada yang membawa uang karena dompet-dompetsantri  disita pada saat awal perjalanan. Akhirnya kami terjebak disitu, salah seorang dari kami menghubungi ustad-ustad yang mendampingi kami.Tak satupun menjawab panggilan kami.Tak lama kemudian dua sosok laki-laki datang, dan itu ustad Zulnaro dan ustad Zul fadhlie, ternyata sedari tadi ada ustad yang berada dibelakang kami.Mereka  berbicara sebentar kepada segerombolan laki-laki itu. Tak ada dompet yang keluar dari perbincangan singkat itu.Dan akhirnya salah satu penjaga tiket tersebut mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan.Ada yang ganjil disini, karena ketika penjaga itu mempersilahkan kami, raut wajah tersenyum seperti menahan tawa. Kedua ustad kamipun  beraut wajah sama. Mungkinkah ini hanya rekayasa?
           Kami tahu badan ini mulai letih.Kami tahu jiwa ini mulai lelah.Tapi kami pun tahu bahwa misi ini belum selesai, dan kami harus menyelesaikannya. Waktu kami hanya beberapa jam lagi. Cukup sudah istirahat kali ini.Kami harus pergi, melanjutkan perjalanan.
Pukul 21.00 WIB. Suara deburan ombak sudah mulai terdengar. Namun sayang, bukan bersal dari pantai hendak kami tuju. Pantai Gereweng, itulah tujuan kami. Tinggal 2km lagi kami berjalan, dan misi ini akan selesai. Keep spirit!
Di tengah rimbun pohon yang tinggi menjulang, terdengar derap langkah kaki kami, kaki-kaki para penjelajah. Walau kini ketukannya tidak semantap langkah kaki di hari pertama, namun aura keberanian dan optimisme masih terindra begitu jelas.Kaki ini bukanlah baja yang kuat menopang beban berat, namun optimisme dan keberanian-lah yang membuatnya bagaikan sebuah baja, bahkan lebih kuat dari itu.Raga ini bukanlah emas yang alangkah terlihat mulia, namun semangat juang-lah yang membuatnya lebih mulia dibandingkan sebuah emas.
Kaki-kaki penjelajah terus melangkah, di atas tanah bebatuan yang juga berpasir.Kini mungkin lebih banyak insting yang bermain, karena tiada lagi lampu penerang jalan yang menemani. Namun senter yang kami miliki begitu sangat membantu, karena menghindari kami dari jebakan sang tuan batu.
Beberapa menit berlau, kami lewati bersama ratusan langkah. Rombongan terpecah menjadi tiga bagian, dan sang guru yang menemani memutuskan untuk diam menunggu mereka yang masih tertinggal. Kami yang sedang menunggu kehadiran mereka tidak mendengar derap langkah kaki barang sedikit pun. Itu artinya, mereka tertinggal jauh.
Senyap, semua memilih diam menunggu.Beberapa percakapan ringan mungkin sempat berlangsung, namun tidak bertahan lama. “Jika selama lima menit mereka tidak juga muncul, saya harus kembali.” Begitu ujar sang guru, yang notabenenya kami panggil ‘ustadz’. Kami hanya mengiyakan, tidak terlalu banyak berkomentar. Salah satu di antara kami mulai memasang timmer selama lima menit. Beberapa ada yang tertidur, diam merenung, juga menatap indahnya ribuan bintang yang ditemani sang rembulan di atas langit yang jauh di sana.
Satu menit…
Dua menit.., berlalu tanpa sebuah kepastian.Tiada tanda-tanda yang menunjukan bahwa mereka mulai mendekat, atau mungkin lebih tepatnya belum.
Hingga akhirnya, di detik kesekian menit ketiga, mereka mulai mendekat.Suara canda tawa bahagia para penjelajah mulai terdengar. Tidak lama dari itu, semburat cahaya senter mulai memancar mengiringi suara derap langkah kaki mereka. Mereka semakin dekat.
Kami kompak membisu dan mematung, bak batu yang bernafas. Seakan-akan ada salah seorang di antara kami memberi komando, “tidur atau diam”. Namun itu tidak bertahan lama. Sebelum mereka tiba persis di depan kami, kami sudah tidak bisa lagi diam membisu bak patung di tengah malam. Kami tertawa dan bercengkrama, berbagi cerita. 
Salah satu di antara mereka rupanya meningggalkan barang bawaannya di warung yang menjadi titik tolak keberangkatan kami. Dan karena ia harus membawanya, ia pun memutuskan untuk kembali dan mengambilnya. Wajar saja, karena barang itu merupakan barang yang begitu berharga. Apakah itu? Kamera DSLR.
Tidak lama kami berbincang, kami melanjutkan perjalanan untuk menunaikan misi di detik-detik terakhir. Tancap gas!
Kaki-kaki para penjelajah terus melangkah. Sesekali keletihan dan ketidaksigapan membiarkan sang tuan batu menghantam kaki ini. Sakit; itu pasti. Namun mental yang terpatri ini tidak akan pernah membiarkan sang kaki diam tidak berarti. Dia akan terus mendorong jiwa ini hingga ke titik misi yang telah menanti kami. 
Beberapa menit setelah puluhan jejak tipis kami tinggalkan, kami berjumpa dengan beberapa guru yang telah mempersiapkan beberapa kebutuhan yang kami butuhkan di lokasi. Ada kayu bakar dan terpal. Dan setelah sejenak melepas lelah dan membiarkan beberapa teguk air memasuki tenggorokan, kami terus melanjutkan perjalanan. Kami melewati lahan pertanian yang tampak sedang beristirahat, tiada tanaman sejauh pandang cahaya senter bersinar.
Setelah melewati medan yang tampak damai, kami memasuki trek berikutnya. Medan kali ini tidak sejinak medan yang sebelumnya, apalagi bagi mereka yang tidak memiliki alat penerangan.  Lebih banyak bebatuan  yang menjorok keluar. Jalanan menjadi tidak rata. Ritme perjalanan pun sedikit melamban. Karena bagi kami, keselamatan lebih utama.
Belum lama setelah kami melewati medan tersebut, kami pun diminta berhenti. Kini saatnya; tatangan berikutnya. Di sebelah kiri kami terdapat sebuah gua yang tampak gelap –pastinya. Pada tantangan kali ini, kami diminta mencari nama masing-masing di dalam gua selama 5 menit. 
Satu..
Dua..
Tiga penjelajah telah memasuki gua. Tiada yang tampak menyeramkan. Bahkan kami malah mendapati sederetan batu gua yang berkilau ketika disinari semburat cahaya senter. Indah. 
Namun sayang, waktu yang terbatas tidak membiarkan seorang pun di antara kami berlama-lama di sana. Alhasil, tiada satu pun penjelajah yang menemukan namanya di sana. Dan itu wajar saja, karena pada faktanya tidak ada satu pun nama kami di dalam sana. Kembali terulang, kami dibohongi. Wajarnya, dalam kondisi yang begitu melelahkan, kami berhak saja merasa jengkel atau pun marah pada mereka yang telah berbohong. Namun kami tahu hal itu bukan suatu kebijaksanaan. Tidak apalah, pasalnya kami pun tetap mendapatkan sisi positifnya; bisa berkeliling gua di malam hari walaupun hanya selama 5 menit. Dan yang terpenting, kami akan senantiasa memegang janji kami, janji para petualang; ‘never crack under pressure’
Usai menyelesaikan tantangan, kami langsung kembali tancap gas. Medan berbatu masih senatiasa menemani kami kala itu. Sayang, beberapa di antara kami mulai menjadi korban sang tuan batu. Namun syukur alhamdulillah, itu bukan sesuatu yang serius.
Setelah sekian menit berlalu, kami mulai mendengar deburan ombak yang begitu membahagiakan.
Semangat kami semakin tinggi. Harapan tercapainya mimpi sudah di depan mata. Kami mulai memasuki kawasan mangrove yang terkenal dengan model akar pohon yang menjulang ke atas. Tiada lagi sang tuan batu yang mendominasi. Kini, tanah dipenuhi dengan tumpukan akar pohon yang berlomba muncul di atas permukaan tanah. Disela-sela akarnya terdapat puluhan lubang kepiting dengan beragam ukuran. Hawa pantai semakin terasa.
Pukul 23.30. Tidak lama lagi setelah itu, tiada lagi akar pohon yang mendominasi. Tanah pijakan ini berubah menjadi hamparan milyaran pasir putih yang indah; walaupun tidak begitu nampak keindahannya di malam hari. Pantai itu masih perawan. Beberapa di antara kami ada yang berlari gembira, haru, tidak percaya, semuanya bercampur menjadi satu. Angin semilir semakin memperindah suasana hati yang merasa berhasil ini. Senyum bahagia terpancar dari wajah-wajah penjelajah, mendominasi perasaan dan kenyataan yang melelahkan. Beberapa memilih untuk diam terduduk menatap sekitar, melayang menuju dunia fikirannya masing-masing. Beberapa memilih untuk bercengkrama bahagia. Beberapa memilih langsung beristirahat. Dan yang terakhir, beberapa memilih untuk kembali ke dataran mengrove untuk mencari buruan yang dinanti; kepiting.
Usut punya usut, kepiting akan keluar mulai pukul enam sore hingga tengah malam untuk mencari makanan. Dan itu artinya, kini lah masa yang tepat untuk memburu mereka. Kami, walau telah menempuh perjalanan yang cukup jauh, tetap tidak mau meninggalkan event yang satu ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang?
Menangkap kepiting di tengah malam merupakan sebuah pengalaman yang begitu berharga. Diam menungggu di depan lubang, kemudian setelah sang kepiting perlahan mendekat, hap! Baru saat itulah kita tangkap. Menegangkan dan menyenangkan bukan?
Alhasil, satu kepiting ukuran besar berhasil kami tangkap; hanya itu. Sedangkan kepiting ukuran kecil yang berhasil  kami tangkap kami biarkan kembali hidup bebas untuk berkembang bersama keluarganya. ‘Kami akan kembali setelah kau besar nanti’, batin kami. Namun sayang, tiada satu pun ikan dan udang yang berhasil  kami tangkap; mereka begitu lincah dan gesit, kalah banding dengan kami yang tidak segesit biasanya.
Jam kini menunjukan pukul 01.00 WIB. Waktunya pulang. Tubuh ini juga membutuhkan istirahat. Istirahat barang sedetik saja sudah sangatlah berharga. Kami kembali meninggalkan medan tempur yang notabenenya merupakan wilayah dataran Mangrove. Pakaian kotor, basah; kami tidak terlalu mempermasalahkannya, bahkan cenderung tidak peduli. Kami kembali ke hamparan pasir menghampiri beberapa penjelajah yang sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Terpal kami gelar. Tubuh ini terkapar di atasnya, walaupun tidak sempurna. Di bagian tengah, kepala para penjelajah saling bersinggungan, isyarat membiarkan puluhan kaki bertelangjang alas tanpa terpal. Dingin nan sunyi.
Tiada selimut. Namun rasa bangga, puas, dan bahagialah yang menyelimuti kami kala itu. Tiada dinding. Namun deretan tebing jauh di depan sana cukup sebagai benteng penghalang bagi kami. Tiada atap. Namun bagi kami pemandangan jutaan bintang yang senantiasa ditemani sang rembulan sudah cukup sempurna sebagai kanopi di malam itu; hotel bintang sejuta. Bagi kami, itu cukup. Suara deburan ombak yang seakan-akan menjadi alunan melodi yang begitu terdengar melankolis. Dan yang terkhir, panasnya sang nyonya api unggun tetap terasa walau jaraknya ratusan senti.
Selamat tidur. Have a nice dream.
Angin sepoi berlalu. Baju yang basah membiarkannya merasuki raga yang terkulai lelah; tertidur pulas. Dingin. Begitulah yang dirasakan sebagian kecil dari kami. Menggangu istirahat di malam yang indah. Tidur tidak lagi menjadi sempurna, kadang terjaga kadang pula terlelap. Dikala kenyamanan mulai berkurang, ketika itulah waktu subuh tinggal sejengkal. Kami terbangun, menuaikan ibadah kepada-Nya. Sholat subuh.
Hanya ada dua buah kamar mandi di pantai tersebut. Kecil, namun cenderung bersih dan memiliki kualitas air yang baik. Mulai dari wudhu hingga buang air pun kami lakukan di sana. Walaupun harus mengantri, itu bukanlah masalah bagi kami. Pasalnya, kami selalu hidup bersama, dan kami sudah terbiasa melakukannya.
Pukul 06.00. Setelah shalat, beberapa penjelajah di antara kami memilih untuk diam mematung di depan sang nyonya api anggun untuk menikmati kehangatan yang disajikan olehnya. Sebagian lagi memilih untuk kembali ke medan tempur dalam rangka melanjutkan aksi memburu kepiting Mangrove. Dan sisanya memilih untuk menyiapkan peralatan untuk sarapan.
Sarapan kali ini pun begitu istimewa. Ubi plus coklat cair. Selain lezat, cara membuatnya pun tidak begitu merepotkan. Nyonya api unggun nampaknya masih cukup bertenaga. Kami hanya perlu meletakan beberapa ubi di atas sang nyonya api unggun, kemudian membiarkannya matang dilahap sang nyonya. Sedangkan untuk coklatnya, kami hanya perlu menyiapkan kompor spirtus dan dua buah panci, beserta sebuah coklat hitam dan dan dua buah coklat putih.
Tidak lama dari itu, kami meyatapnya dengan riang dan bahagia. Kadang kami hias muka teman yang duduk di samping kami dengan lelehan coklat tersebut. Atau yang lebih parahnya lagi, menghias muka teman menggunakan abu yang terdapat di permukaan kulit ubi; bak seorang tentara Mangrove. Sesekali kami dapati sebuah ubi yang belum matang dalamnya. Sesekali coklat tersebut kembali mengeras, sehingga kami perlu memanaskannya kembali. Namun semua itu tampak menyenangkan. Hingga tidak terasa, sarapan pun ludes ditelan kami, para penjelajah yang kelaparan :D.
Aktivitas bebas. Ada yang berfoto ria, ada yang bercengkrama, ada yang kembali melanjutkan hunting, dan ada juga yang sibuk dengan barang pribadinya sendiri. Alhasil, aktivitas bebas kali ini diakhiri oleh foto bersama di sebuah muara mangrove yang notabenenya dilakukan melalui pemaksaan tanpa komandan. Usai dari itu, kami pun mulai berbenah untuk melanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya; pantai Wediombo.

Pukul 08.30. Sebelum meninggalkan dataran mangrove, kami mendapatkan penjelasan singkat terkait hutan mangrove oleh ustad Agung. Dalam periode ini, kami pun meminum air dari muara tersebut, yang notabenenya merupakan saluran pembuangan warga sekitar sumber mata air yang jauh di sana. Pasalnya, kami hanya ingin membuktikan bahwa air tersebut merupakan air payau, dan itu terbukti.      
Kami cukup penasaran untuk melihat keadaan goa semalam, nampak seperti apasih keadaan goa itu sesungguhnya, kamipun memilih singgah terlebih dahulu ke dalam goa. Benar nyatanya, elok nian goanya, terdapat lubang yang ditutupi oleh akar yang tumbuh diatas goanya.Kamipun tak mau ketinggalan mencicipi setiap sudut goa.Ada yang hanya menatap keadaan sekitar goa, menaiki bebatuanya sampai berayunan di akar yang bergelantungan kebawah. Sayang, kami tak bisa berlam-lama memandangi eloknya goa itu, karena pantai Wediombo  telah menanti kedatangan kami. Kembali melewati dataran yang dipenuhi sang tuan batu, kemudian dataran lahan pertanian yang damai, kemudian dataran tanah berbatu dan juga berpasir. Tanpa kami sangka, medan model ketiga memiliki jarak yang cukup jauh, juga frekuensi naik-turun yang paling tinggi dibandingkan yang lain, walaupun bebatuannya tidak sebuas bebatuan di medan pertama.
Sekitar kurang dari satu jam kami berjalan, kami pun tiba di pantai wediombo. Ramai, dipadati berbagai kalangan. Setelah sekitar beberapa menit kami beristirahat menunggu penjelajah yang lain, kami pun mulai memasuki kawasan pantai, dan memilah tempat yang menjadi arena peristirahatan sementara. Akhirnya, dataran berpasir (agak) hitam pun menjadi pilihan kami. Dataran tersebut dipenuhi bebatuan laut yang tidak setajam bebatuan di tengah perjalanan sebelumnya., Dan yang lebih spesialnya, dilengkapi dengan kanopi alami; yankni tajuk pohon.
Merasa tidak sabar, kami yang baru tiba langsung memutuskan bertarung melawan ombak setelah sekian lama rasanya badan ini tidak berjumpa dengan air kecuali oleh air keringat. Segar dan bahagia bercampur menjadi satu. Ada yang memilih untuk berenang mealwan arus ombak, bermain di antara karang, berjalan-jalan ke sana kemari melintasi dataran berkarang, juga berjemur di atas karang yang cukup besar; bak putri duyung .
Setelah cukup lama kami bertarung melawan ombak, tergesek karang, berjemur, berenang menghantam arus, periode ini pun usai. Kami harus kembali ke dataran untuk berbenah; pulang. Namun sebelum itu, kami diminta untuk berdiri berjajar menjadi dua baris melintang. Forum diambil alih sang guru.
Kalian berhasil. Misi kalian telah selesai. Kalian telah berjalan sejauh 37km. Suatu prestasi yang mengagumkan untuk kalian yang merupakan seorang perempuan. Oleh karenanya, kini kami beri kalian sebuah penghargaan. Mungkin bila dihitung secara meteri, hal ini bukanlah sesuatu yang begitu berharga. Yang kami berikan hanyalah sehelai kain yang tentunya tidak terbilang mahal. Namun yang membuatnya menjadi mahal ialah makna yang terkandung di dalamnya;  penghargaan atas apa yang telah kalian lakukan. Tetap semangat.
Adventure never dies.”

Kami takzim mendengarkan kalimat yang diucapkan olehnya. Mungkin ada yang terharu, bahagia, bangga, dan masih banyak lagi. Memang, hanya sebuah slayer jingga berbentuk segitiga yang kami dapatkan. Namun apa yang terkandung di dalamya menjadi suatu pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.\
 
Pukul 12.30. Berjalan meninggalkan pantai. Menghampiri kendaraan kesanyangan kami, truk. Dalam keadaan basah, kami meninggalkan sejuta kisah di sana. Yang tidak akan pernah terlupakan. Gua Ngingrong, pantai Gereweng, pantai Wediombo; sebuah rangkaian kisah yang begitu menarik. Selamat tinggal.

                           
           
Menanti catatan perjalanan selanjutnya...
-Adventure never dies-              


                           

     By : Hida’ne, Salma, Hasni Amira, Ara Syifa, dan Ina zuiyna            
                                   
                      
                





Comments

Popular posts from this blog

Rajut kata

Dia