Dia
Mencari Titik Cahaya Di Bawah Lamunan
Terdiam.
Dia duduk merenung dibawah rindangnya pohon , mencoba menjauh dari keramaian
yang ada. Kerudung hitamnya berkibar-kibar terhembus semilir angin. Ya, hanya
ada dia. Belakangan ini dia memang hobi merenung. Memikirkan benang yang
merajut 1001 kata, 1001 peristiwa, 1001 teguran di dalam fikiranya. Dia terus
terdiam sambil menggoreskan sesuatu di sketch book miliknya. Bingung, penasaran,
kesal dan segala rasa teraduk-aduk dalam hatinya. “ Aku harus seperti apa?”.
Batinya didalam hati yang sangat dalam.
Dia
hanya seorang gadis periang, awalnya. Layaknya kupu-kupu yang lincah kesana
kemari menemukan ladang nektar ditaman bunga yang berlimpah ruah. Namun bak
kilat yang sesaat menyambar, riang diraut wajahnya mendadak hilang, berganti dengan
wajah yang dingin dan sesekali kerutan tampak pada keningnya. Berlembar-lembar
kertas dia habiskan untuk menuliskan segudang rangkaian kata, rangkuman dari
apa saja yang dia fikirkan. Sebuah gambaran dengan goresan bebas dia buat, ya
semua itu menggambarkan suasana hatinya yang sedang terlukis abstrack.
Sesekali ada temannya yang datang untuk mengajaknya pergi dari kesunyian itu.
Tapi yang terjadi hanya tatapan sepasang mata dan senyum kecil yang tersungging
dari bibirnya. “ Maaf, aku lagi gak
mood “. Jawabnya singkat. Teman-temanya fikir dia sudah stress dan atau…sedang
terkena virus andialu, antara delima dan galau. Entahlah, taka ada yang
mengerti dia. Semua menjauh. Dan akhirnya semua pergi dengan kesibukan
masing-masing. Sedangkan dia tetap terdiam dibawah rindangnya pohon, ditemani
dengan daun-daun yang silih berganti jatuh.
Benang
kusut dalam benaknya, dia urai satu per satu. Dia teringat ketika dia SMP
ibunya berpesan “ Nak, jadilah teman yang care dengan orang lain… Saling
mengerti dan jangan keluarkan kata-kata yang tidak baik, walaupun kamu sedang
kesal, atau dicaci. Diamlah lalu berwudhu. Ceritanya nanti ke ibu aja. Jadilah seorang yang periang
hingga buat yang lain bahagia melihatnya. “.
Ya,
nasehat itu dia jalankan sebisa mungkin, alhasil banyak teman-teman yang dekat
denganya. Hingga waktu terus berlalu, kini dia duduk dibangku kelas 3 SMA
semester awal. Dia jalani hari-hari dengan prinsip yang dia adopsi dari nasehat
ibunya itu. Namu tak bisa dipungkiri, tetap ada segelintir temanya yang sering
menghina, mencaci dan beberapa ungkapan buruk tertuju padanya. Bertubi-tubi bully-an
verbal itu ia terima. Baik langsung maupun tidak. Dan dia hanya diam. Awalnya,
dia seringkali berkonsultasi pada ibunya, namun akhir-akhir ini dia mulai
merasa enggan. Dia enggan, setelah melihat kesibukan ibunya dan amarah yang
acap kali mencuat dari bibir manis ibunya. Dia fikir ibunya lelah dan dia juga merasa
kasihan pada ibunya. Rasanya cukuplah beban fisik yang membebani ibunya itu. “ Janganlah
ku tambahi beban fikiran ibuku, mungkin sudah saatnya aku harus mampu
menyelesaikan sendiri “. Fikirnya sekali lagi setiap dia berniat bercerita
pada ibunya, dan akhirnya dia hanya memendamnya seorang diri. Tak ingin
membebani orang lain, itulah prinsipnya sekarang.
Namun
2 minggu yang lalu terdengar sebuah rangkaian kata yang mengganggu telinganya.
Yang itu membuatnya memperhitungkan nasihat ibunya 5 tahun yang lalu.
“ Maaf ya…Bisa gak sih kamu jadi orang yang gak sok akrab?!? Risih tahu lihatnya…Cari perhatian atau gimana sih?!? ”. Dia mulai berfikir ulang. Kini ia putuskan untuk menjadi orang pendiam. Teman-teman nya mencoba menghiburnya, namun dia hanya tersenyum. Sesekali tawa kecil keluar darinya. Namun tak semeriah dulu. Hingga suatu pagi, sebuah celetukan pun akhirnya dia dengar embali. “Kesambet ya?? Udah deh jangan sok alim!”.
“ Maaf ya…Bisa gak sih kamu jadi orang yang gak sok akrab?!? Risih tahu lihatnya…Cari perhatian atau gimana sih?!? ”. Dia mulai berfikir ulang. Kini ia putuskan untuk menjadi orang pendiam. Teman-teman nya mencoba menghiburnya, namun dia hanya tersenyum. Sesekali tawa kecil keluar darinya. Namun tak semeriah dulu. Hingga suatu pagi, sebuah celetukan pun akhirnya dia dengar embali. “Kesambet ya?? Udah deh jangan sok alim!”.
Dia
makin bingung. “Salah apalagi aku ini? ”. Batinya. Dan dia tetap terdiam
dalam lamunan yang begitu dalam. Dia teringat sebuah kisah keledai, seorang bapak
dan anaknya. Begini kisahnya…
Seoarang
bapak dan anak melakukan sebuah perjalanan pulang yang cukup panjang dengan
ditemani seekor keledainya. Mereka berdua menunggangi keledai itu. Dan tibalah
mereka didesa pertama. Penduduk setempat berkata keras pada mereka. “Wahai musafir,
tega nian kalian dengan keledai itu. Tak punyaah kalian rasa belas kasihan?”.
Setelah mendengar itu, keduanya turun dari keledai itu. Anak itupun menaiki
keledai, dan bapaknya berjalan disampingnya. Sampai tiba saatnya mereka melewati
desa kedua, gunjingan dari warga setempat pun terdengar lagi. “ Durhakalah
anak itu. Membiarkan bapaknya berjalan dan dia dengan enaknya menaiki keledai
itu. Dasar anak tak tahu diri “. Mendengar itu, si anak langsung menuruni
keledainya dan bergantian denan bapaknya.
Bapaknya
pun menunggangi keledai itu. Tibalah mereka didesa ketiga berikutnya. Lagi-lagi
bisikan panas terdengan ditelinga mereka. “ Alangkah malangnya anak itu,
berjalan seorang diri. Sedangkan bapaknya menunggangi keledainya. Ya tuhan,
betapa kejinya bapak itu, tak tahu kasih sayang pada anaknya! ”. Dengan
wajah yang muram bapak itu turun, dan si bapak berkata lirih pada anaknya, “
Ya sudahlah nak, kita tuntun saja keledai ini.”. Dan apa yang terjadi
ketika mereka melewati kota yang selanjutnya?. Penduduk didaerah itu
bersbisik-bisik pula. “ Bodohnya kedua orang itu. Membiarkan keledai
berjalan tanpa membawa sorang pun dari mereka.” . Lalu keduanya bingung
saling beratapan.
Dari
kisah itu, dia mengerti bahwa ada pelajaran yang bisa diambil yakni “ Be
yourself “. Jadilah dirimu sendiri, karena jika mengikuti persepsi orang
pastilah engkau akan diselimuti kebingungan. Karena apa? Karena setiap orang
memiliki persepsi yang berbeda-beda pada suatu perkara yang sama. Namun
dia masih tak habis fikir, makna be yourself itu sebenarnya bagaimana?. Jika dia mengikuti
apa kata hatinya, apa kata hatinya itu pasti benar. “Tidak..tidak…Aku tak
ingin jadi orang yang sesat.”. Gumanya. Lau kata hati siapa yang semestinya
din ikuti?. Tiba-tiba lamunan itu terpecah dengan suara bel pertanda akan
segera pulang. Dia pun melangkahkan kedua kakinya dengan tanpa gairah. Pulang.
Gerbang
sekolah dipenuhi siswa yang berebut untuk keluar. Dan Dia hanya diam menunggu
dibawah pohon Kenari, menunggu teman-temanya menghentikan kerumuan bak kumpulan
lebah itu. Setelah semua sepi, dia baru melangkah keluar gerbang. Bukan rumah
tujuanya siang itu, tapi dia singgah terlebih dahulu di Padang Ilalang didekat
rumahnya. Sesampainya di Padang Ilalang, tubuhya pun dia rebahkan di tengah
padang ilalang tersebut, sambil menatap lepas kearah utara, yang menyajikan
panorama gunung yang elok. Kembali dia mengela
nafas yang panjang. Dia kembali melihat sketch book nya yang ia gores
tadi. Sudah berlembar-lembar dia goreskan tinta dengan berbagai kesimpulan, tapi
dia masih bingung yang mana yang tepat.
Dia
berfikir sejenak. Kepada siapa dia harus berguru. Dia rasa, dia telah
melaksanakan segala sesuatu tanpa melanggar perintah-Nya. Bahkan akhir-akhir
ini, dia mulai memperbanyak amalan sunnah dalam rangka untuk mendekatkan diri
pada Allah SWT. Tapi mengapa dia masih dihantui rasa serba salah untuk
melangkah. Dia takut untuk bercerita, karena begitulah prinsip yng kini ia
pegang. Jangan membebani orang lain. Dia fikir, dia harus cepat temukan jawaban
semua itu. Karena sebentar lagi dia akan terlepas dari masa putih abu-abu. Dan
itu berarti dia harus berfikir lebih keras mengenai apa jati dirinya, bagaimana prinsip hidupnya
dan jalan yang dia pilih kelak dalam mengarungi ganasnya lautan kehidupan ini.
Dan kini dia hanya menutup mata, membiarkan udara mengalir menemaninya dalam
kesendirian itu.
Lalu,
bagaiman menurutmu ?.
Comments
Post a Comment